Sabtu, 03 Januari 2009

_lonceng yang tak berdenting_

Pernah ku terduduk dalam pikiran tuk melihat sisi kehidupan dari bukan duniaku. Mencoba melihat dari mata yang "jauh berbeda" dengan apa yang kumiliki. Aku ingin belajar bagaimana mereka hidup, dan selanjutnya mencoba kubenturkan dengan apa yang ada dalam otakku selama ini.
1. Aku mencoba melihat 'seorang tukang bakso'
Apa yang mereka pikirkan saat bangun pagi?
--> apa hanya ke pasar dan menggiling daging? mandi? mengantar anaknya sekolah? dan memberikan mereka uang saku?
Apa yang mereka pikirkan saat siang hari?
--> apa hanya mengaduk kuah, dan mengkukus bakso? melihat istrinya yang mencoba tersenyum dengan keikhlasan?
Apa yang mereka pikirkan saat berpamitan berangkat berjualan?
--> doa dan senyuman keluarga yang menyertai? atau ketakutan akan harapan yang disandarkan pada dirinya?
Apa yang mereka pikirkan saat mendorong gerobak baksonya?
--> jalanan yang mereka pilih, berapa orang yang akan beli baksonya? cuaca?
Apa yang mereka pikirkan saat malam hari?
--> apa mereka benar2 bodoh hingga terlarut dalam siaran televisi? atau mereka benar2 akan terdistorsi lingkungan sosial?
Bagaimana dan apa yang mereka panjatkan saat berdoa?
--> mendefinisikan kebahagian mereka?
Apa yang menjadi 'mimpi besar' mereka?
--> masihkan mereka punya? dan bagaimana mereka bersyukur?
Apa yang paling mereka keluhkan tentang hidup?
--> apa hanya harga minyak/LPG? harga daging? beras?
Apa mereka termasuk didefinisikan sebagai "orang baik"?
--> jadi mikir mereka rajin ibadah nggak ya? atau doyan mabuk dan judi? trus hal paling buruk apa yang pernah mereka lakukan?
Trus bagaimana orang lain melihat mereka ya?
--> apa mereka peduli?
Apa yang mereka jalani selama ini membentuk mereka menjadi orang yang seperti apa ya?
......
......

2. Aku mencoba melihat seorang sopir truck "container"
Jam kehidupan mereka seperti apa ya?
--> pasti kacau ya? jarang banget khan mereka bangun jam 5, sholat, mandi, kerja, pulang sore, trus nonton tv, tidur dan bermimpi,,,,
Apa yang mereka pikirkan saat tiduran di singgasana mereka di belakang kemudi?
--> apa hanya gigi brp yg mereka pilih? Lewat jalan mana yang nggak macet? menghindari polisi? atau antrian di pelabuhan?
Sebesar apa mereka merindukan tempat tidur normal?
--> nggak usah ditanyakan,,,,
Apa yang jadi harapan mereka?
--> mungkin bisa keluar dari rutinitas yang tak sewajarnya? atau mereka meyerah karena kebutuhan?
Bagaimana anak mereka bercerita tentang ayahnya yang jarang mereka temui?
--> semoga anaknya "bangga", karena mereka juga seorang pejuang khan?
Bagaimana wajah istrinya saat menyambut suaminya datang?
--> apa senyum yang indah? apa hanya menunggu datangnya duit krn beras sudah menipis?
Apa mereka sempat sholat saat mereka dikejar jadwal pengiriman dan dihadang kemacetan?
--> waduh,,,, Allah Maha Adil khan?
....
....
(dsb)

3. Penjual gorengan di deket rumah kontrakan

4. Peminta-minta yang mengedarkan kertas bertandatangan dan berstempel panti asuhan

5. Pengamen, asongan, dan tukang sulap di bis kota Jakarta-Karawang

6. Operator_ku di pabrik

7. Seorang Cina penjual spare part (maaf,,, bukan bermaksud mempermasalahkan ras, hanya mencoba melihat dari perbedaan)

8. (dsb.....)

Selanjutnya aku akan mendefinisikan "apa yang kurasa? dan bagaimana seharusnya aku bersikap?"
Semoga Allah tak akan lelah tuk selalu menunjukkan kebesaran_Nya

Amien,,,,

Minggu, 26 Oktober 2008

_aku tak terus jatuh_

Selintas ruang aku memang terjatuh
Semua warna dalam rangkaian kata
Membentuk lukisan keterpurukanku
Tapi 'cicis' hanya mencoba menghargai
Bukan berarti aku terus terjun bebas
Alhamdulillah aku juga belajar kok
Aku jadi lebih ingin memahami
Tentang tatanan duniawi
Tentang tatanan surgawi
Dan bagaimana aku di sana
Allah juga Sang Maha Memahami kok,,,,
Jadi perjalanan ini tak akan berhenti
Sakit atau apalah itu namanya adalah cara
Cara Dia begitu memperhatikan
Thank's My Lord

Sabtu, 18 Oktober 2008

_ada_

Sang waktu begitu kejamnya
Mengijinkan semua moment datang
Datang di saat aku sedang di atas
Dan datang saat aku sedang terjatuh

Sang pertanyaan juga kejam
Biarkan aku terus berfikir
Dan sang jawaban juga kejam
Biarkan aku tuk terus bertanya

Sang ketulusan juga kejam
Biarkan aku tuk memilikinya
Dan sang keegoisan juga kejam
Biarkan aku tuk tetap tulus

Sang takdir juga kejam
Menuntutku tuk sempurna
Dan sang kenyataan juga kejam
Biarkan aku memahami takdir

Satu hal yang membuat semua itu menjadi indah
Sekejam apapun semuanya
Selalu ada nilai kebaikan di situ
Saat keyakinan itu ada untuk terus memahami
Semoga yang kau harapkan kan datang
_cis_

_aku khan pahami dan hargai semua_

Kaki ini akan selalu berada menjejak di bumi

Artinya kemana pun aku mencoba berlari

Aku harus terus “hidup” bukan?!

Aku mau menghargai semua

Dan dalam pemahamanku ada maaf

Walau tak bersua dalam ikrar

Akan tetap berarti dan bermakna

Dan tak lupa ucapan “terima kasih”

Aku khan terus melangkah

Berharap khan sebuah ketakjuban

Dari senyum yang dihadirkan

Tanpa batas waktu dan alasan

Kan kugandeng sebuah tangan penjaga hati

Kupandang bunga kepercayaan

Tersenyum atas anugerah rasa tulus

Hingga nafas ini diputuskan_Nya

Tak akan kuputuskan permohonan

Kepada_Mu Sang Maha Berkehendak

Ijinkan aku memberikan nilai

Pada dunia bukan hanya tuk kami

Karena aku bukan hanya tuk aku

Aku ingin ada tuk mereka

Dulu, sekarang, dan biarkan

Biarkan sampai nanti

Jumat, 17 Oktober 2008

_tuk sang penikmat dari sang pejuang_


Kami dihadirkan di dunia dengan kesederhanaan

Dari situ kami diajarkan “menghargai” sebuah anugerah

Mungkin kami juga jauh dari sempurna,,,

Dari situ juga kami mencoba ‘belajar’ dan ‘tumbuh’

Tatanan dunia dan surgawi kalian terkadang menilai kami ‘cacat’

Tapi bukankah kami tak punya hak memilih terlahir,,,

Dan tak berkuasa atas takdir yang membentuk kami,,,

Jangan nilai seperti apa kami sekarang,,,

Nilailah bagaimana kami ‘percaya’, ‘berjuang’, dan ‘tumbuh’

Jujur kami pun tak meminta tuk dihargai,,,

Karena harga yang kalian ungkapkan kadang ‘menakjubkan’

Yang kami minta hanya “pahami” bagaimana kami “hidup”

_cis_

_Pagi 29 Juni 2008_

Selepas ‘shubuh’ kudidiamkan tubuhku di bangku taman,,,

Pagi yang paling “…” (maaf aku tak mampu menemukan kata yang tepat) selama perjalananku,,,

Kesejukan pagi tak mampu melepaskan sesakku,,,

Rindang dedaunan taman tak mampu meneduhkan galauku,,,

Kakiku baru terasa begitu lelah setelah tersadar,,

Semua kepingan cerita masih begitu lekat,,,

Kuhantam udara kosong di depanku,,,

Kuberdiri dan menengadah menanyakan pada Allah,,,

Apa misteri dibalik kehendak Beliau yang begitu mutlak,,,

Lantunan doa semalam mencoba melawan rasa sakit,,,

Namun perlawanan itu baru saja dimulai,,,

Dan aku tau itu tak akan selesai dengan cepat,,,

Aku tak mampu menghentikan “aku” yang terus bertanya,,,

Maafkan jiwaku dari aku sobat,,,,

Jiwa seakan tak lagi jenak bersemayam di tubuh ini,,,

Dan seandainya aku tau apa yang terjadi di keesokan harinya,,,

Mungkin lebih baik aku tak ada di pagi itu,,,

_cis_

Minggu, 05 Oktober 2008

_terima kasih_

Dalam waktuku yang tanpa pekat
Hadir warna baru dari sisi lain kehidupan
Kembali dihadirkan dalam bentuknya
Membuat penanyaan kembali pemahaman
Akan makna "pencarian hidup"

Akan selalu ada yang "lebih"
Akan selalu ada "keinginan"
Dan akan selalu ada "pelena"

Walau pun belum selesai
Dimana aku merangkai semua makna
Tak lupa kan ucapkan "terima kasih"

Alhamdulillah atas segala perbedaan
Yang memaknai semua ini
Dan kami kan tetap memohon
Ikhlaskan sebuah maaf
Berikan sebuah "pensederhanaan"
Dan cepatkan "sang waktu"

_cis_