Pernah ku terduduk dalam pikiran tuk melihat sisi kehidupan dari bukan duniaku. Mencoba melihat dari mata yang "jauh berbeda" dengan apa yang kumiliki. Aku ingin belajar bagaimana mereka hidup, dan selanjutnya mencoba kubenturkan dengan apa yang ada dalam otakku selama ini.
1. Aku mencoba melihat 'seorang tukang bakso'
Apa yang mereka pikirkan saat bangun pagi?
--> apa hanya ke pasar dan menggiling daging? mandi? mengantar anaknya sekolah? dan memberikan mereka uang saku?
Apa yang mereka pikirkan saat siang hari?
--> apa hanya mengaduk kuah, dan mengkukus bakso? melihat istrinya yang mencoba tersenyum dengan keikhlasan?
Apa yang mereka pikirkan saat berpamitan berangkat berjualan?
--> doa dan senyuman keluarga yang menyertai? atau ketakutan akan harapan yang disandarkan pada dirinya?
Apa yang mereka pikirkan saat mendorong gerobak baksonya?
--> jalanan yang mereka pilih, berapa orang yang akan beli baksonya? cuaca?
Apa yang mereka pikirkan saat malam hari?
--> apa mereka benar2 bodoh hingga terlarut dalam siaran televisi? atau mereka benar2 akan terdistorsi lingkungan sosial?
Bagaimana dan apa yang mereka panjatkan saat berdoa?
--> mendefinisikan kebahagian mereka?
Apa yang menjadi 'mimpi besar' mereka?
--> masihkan mereka punya? dan bagaimana mereka bersyukur?
Apa yang paling mereka keluhkan tentang hidup?
--> apa hanya harga minyak/LPG? harga daging? beras?
Apa mereka termasuk didefinisikan sebagai "orang baik"?
--> jadi mikir mereka rajin ibadah nggak ya? atau doyan mabuk dan judi? trus hal paling buruk apa yang pernah mereka lakukan?
Trus bagaimana orang lain melihat mereka ya?
--> apa mereka peduli?
Apa yang mereka jalani selama ini membentuk mereka menjadi orang yang seperti apa ya?
......
......
2. Aku mencoba melihat seorang sopir truck "container"
Jam kehidupan mereka seperti apa ya?
--> pasti kacau ya? jarang banget khan mereka bangun jam 5, sholat, mandi, kerja, pulang sore, trus nonton tv, tidur dan bermimpi,,,,
Apa yang mereka pikirkan saat tiduran di singgasana mereka di belakang kemudi?
--> apa hanya gigi brp yg mereka pilih? Lewat jalan mana yang nggak macet? menghindari polisi? atau antrian di pelabuhan?
Sebesar apa mereka merindukan tempat tidur normal?
--> nggak usah ditanyakan,,,,
Apa yang jadi harapan mereka?
--> mungkin bisa keluar dari rutinitas yang tak sewajarnya? atau mereka meyerah karena kebutuhan?
Bagaimana anak mereka bercerita tentang ayahnya yang jarang mereka temui?
--> semoga anaknya "bangga", karena mereka juga seorang pejuang khan?
Bagaimana wajah istrinya saat menyambut suaminya datang?
--> apa senyum yang indah? apa hanya menunggu datangnya duit krn beras sudah menipis?
Apa mereka sempat sholat saat mereka dikejar jadwal pengiriman dan dihadang kemacetan?
--> waduh,,,, Allah Maha Adil khan?
....
....
(dsb)
3. Penjual gorengan di deket rumah kontrakan
4. Peminta-minta yang mengedarkan kertas bertandatangan dan berstempel panti asuhan
5. Pengamen, asongan, dan tukang sulap di bis kota Jakarta-Karawang
6. Operator_ku di pabrik
7. Seorang Cina penjual spare part (maaf,,, bukan bermaksud mempermasalahkan ras, hanya mencoba melihat dari perbedaan)
8. (dsb.....)
Selanjutnya aku akan mendefinisikan "apa yang kurasa? dan bagaimana seharusnya aku bersikap?"
Semoga Allah tak akan lelah tuk selalu menunjukkan kebesaran_Nya
Amien,,,,
1 komentar:
aku melihatmu lagi di bawah temaram lampu jalan, malam itu
masih saja seperti dulu
kurus dan sedikit rapi, tapi penuh pemikiran dan misteri
masih saja seperti dulu
aku sempat menengok kebun jagung dan sayuranmu
tumbuh sekenanya, karena kau tlah disibukkan yang lain, tentu
aku tak menyoal waktu yang terbuang
atau cerita yang terkenang
ini hanya soal jagung dan sayur
yang dulu pernah kujanjikan untuk kutanam bersama
mampirlah sebentar di rumah singgahku,
bawa serta perutmu yang lapar dan kerongkongan keringmu
kuisi penuh dengan sayur lodeh kesukaanmu
kumandikan dengan air dingin sungai di seberang rumah
mampirlah seperti dulu
walau hanya untuk secarik puisi
atau seisapan tembakau
akan kuminta istriku menyiapkan kopi
menemani kita semalam suntuk,
semalam penuh suntuk, melepas suntuk
ceritakan tentang calon istrimu
ceritakan tentang mimpi-mimpimu
ceritakan tentang pemikiranmu
ceritakan tentang semua yang kau simpan dalam memori
aku juga punya cerita
tentang perempuan bidadari kecilku
tentang Satriyo, pangeran kecilku
ayolah, mampir sejenak
kita berladang
kita bajak bersama
dan bersenang-senang
tinggalkan sejenak lampu kota yang sudah cukup tua dan temaram
deru asap dan debu yang mengepul di sekitar pabrik
sudah cukup kau mencumbunya,
kini giliran kita berladang lagi
dengan bijak . . .
-koncomu-
Posting Komentar