Rabu, 27 Januari 2010

"selesaikan buaian"

Perkenalkan aku pada garis yang menghubungkan
Jangan asingkan pemahaman atas stimulus pekat
Biarkan dimensinya berkembang membentuk ruang
Mewujudkan ketetapan yang tak hentinya berkembang

Takjubkan aku akan bersinarnya energi dunia di ufuk
Dalam hela nafas melepas sisa detoksifikasi
Sekat-sekat rencana terurai bersama kesadaran
Memberikan perintah pada syaraf tuk membangunkan aku

Saat dunia memulai melaksanakan pembakaran massal
Langit dipenuhi uraian pesan dan perintah
Sadarkan aku bahwa tak cukup dengan terbawa
Tumbuhkan dimensi yang berbeda dan mampu terisi

Masih tergambar dalam siluet bergerak secara terus menerus
Sering kali terlena dan menghilang dalam pattern ilmu logika sederhana
Stimulus psikis melankolis membendung ledakan langkah hisap
Jangan biarkan menjadi dinding abu-abu yang besar

"perlahan tanamkan sehingga aku mampu"

Belajar Dari Keangkuhan

Lantunan lirik yang mencoba menjelaskan
tak terdengar tapi terlihat memperdengarkan
Sesungguhnya lebih baik tak perlu dudukdi depanku
karena keberadaan itu sungguh memuakkan
Saat langit dan bumi dipahami bukan sebagai dunia yang sama
tapi secara diam berteriak mengakui kehidupan
Menempatkan kerendahan hati sebagai tameng berbentuk kebenaran
ironis menyatakan euforia kebahagiaan yang diharapkan

Tak menyisakan setitik pun prasangka
Bila saatnya nanti menanti itu berujung
dan pembelajaran memberikan kesungguhan hak penuh
Tak sabar tersenyum dalam euforia
Dan sesungguhnya percaya itu tak terbatas
Tak memungkiri fluktuasi itu tetap menyertai kekal
membuka sisi kemanusiaan yang telah belajar
"belajar dari keangkuhan"