Selasa, 23 September 2008

_langit_

Pernahkan kau melihat langit? Langit itu luas ya?! Aku suka langit yang seperti itu, walaupun jauh dan tinggi, seakan selalu memperhatikan dan melindungi kita. Ada begitu banyak arti saat aku menatapnya.
Saat langit menerang mengiringi sang mentari pagi bersinar, membangunkan begitu banyak harapan manusia di dunia. Berjibun rencana dan motivasi, keluh kesah tak bersuara, denting sarapan, gema ucapan "Assalamualaikum", dan rona pikiran terbangun bersamanya di setiap penjuru dunia.
Langit siang hari menunjukkan warna yang berbeda, begitu terang, luas membiru, dan begitu teriknya. Saat kubentangkan tangan, mendongakkan kepala, memandang, dan menghirup udaranya aku merasa begitu diingatkan akan luas dunia dan kecilnya seorang 'aku'. Teriknya yang pekat menggugat lelah, peluh, dan aku merasa luluh karena makna siang. Menguji seberapa besar tekadku tuk menakhlukkan hari dan tanggungjawabnya.
Senja dengan warna jingganya menggiring semuanya menuju peraduan. Luapan kebanggaan akan pembuktian diri di hari itu, lemasnya tubuh yang hanya menuruti keinginan sang otak tuk memenuhi tanggungjawab, rasa rindu akan secangkir teh hangat selepas guyuran air mandi, sang sopir dan kendaraannya yang meraung mencoba menutup hari dengan kepuasan di setoran, sang istri dan si kecil yang tak sabar memeluk bapak yang lelah, semuanya berjalan dengan begitu indah. Ditutup dengan lantunan adzan maghrib di segala penjuru dunia.
Malam yang walau hitam pekat pun menyajikan sebuah pertunjukkan yang begitu menakjubkan. Bulan yang syahdu dan bintang yang centhil berkelip mengisi kepekatan itu dengan mimpi. Tubuh-tubuh yang membujur lemas, sinyal televisi yang berebut tuk ditangkap oleh antena-antena rumah, aliran listrik yang membludak seketika, bunyi wajan pedagang yang bergemuruh memenuhi pesanan, lampu belajar yang redup menemani si kecil, cengkrama tentang hidup yang sayup-sayup terdengar oleh dinginnya udara, semuanya pun berjalan dengan begitu indah.

Namun sang langit pun juga memiliki takdirnya yang tuk berbeda dan tak selalu sama. Ada sang mendung yang berarti tak sebiru seharusnya. Memanaskan suasana udara, membelokkan begitu banyak rencana dan perjalanan hari itu, melebarkan senyum orang-orang bercaping, memenuhi penantian sungai-sungai kering yang begitu lelah, membangkitkan was-was dalam lingkungan banjir, si kodok dan ikan yang siap menyambut musim kawinnya, dan ternyata masih saja langit menunjukkan maknanya.
Terkadang ada sang pelangi yang menyajikan rasa indah muncul di langit yang tak menentu antara hujan atau tidak. Imaji akan turunnya bidadari ke dunia, lantunan rangkaian warna mengetuk nada hati tuk tersenyum, ada pula ketakjuban akan kebesaran_Nya yang terkandung.

Itulah kenapa aku begitu menyukai langit,,,,
Karena di langit itu “bidadari terbang”
Karena “my fallen angel” begitu indah di langit senja
Karena bintang itu tak akan mampu kuraih
Karena aku akan berharap terus pada mentari pagi
Tuk “bangunkan aku”


_cis_

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mas, fontnya bisa digedein gak?? pusing baca terlalu kecil soalnya, he3...thank you...

Anonim mengatakan...

menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga..bersyukurlah pd yg Kuasa, cinta kita di dunia...selamanya....
walau hidup kadang tak adil, tp cinta lengkapi kita...

(OST. Laskar Pelangi)