Ku terbujur dalam lintang perjalanan
Mencoba tuk mencari pemahaman makna takdir
Dalam gelap ruangku kau menyusup hadir
Ku bertanya akan kau “bunga cahya_koe”
Menyajikan sinar kehangatan dengan sebuah senyum
Terpejam dalam hembusan terbenamnya sang mentari
Terurai dengan begitu “menakjubkan”
Memberikan keindahan arti sebuah ketulusan
Kudiajarkan tentang sesuatu yang suci
Dan tak ada batasan tentang sebuah rasa
Melewati semua tatanan dan norma
Menghilangkan arti “kepastian” hidup
Bersama cahya_moe kumerasakan sepenuhnya
Pesan hidup yang tak pernah bisa kuuraikan mutlak
Kudituntun tanpa bentuk sadar
Mempersembahkan separuh titipan jiwa
Disertai pemberian hati kecil ini sepenuhnya
Sejenak aku terbuai dalam ribuan imaji
Berlari, melompat, tertawa, dan berteriak
Mencoba memperjuangkan anugerah_Nya
Menggapai mimpi janji tuk akhir waktu
Sampai di titik balik dimana aku “dipaksa?!” berhenti
“cahya” itu dalam sekejap redup (atau mati?!)
Ku tak mampu berlari mengejarnya
Setinggi kumelompat tak dapat menggapainya
Dalam tawaku tak menyentuh senyumnya
Dan teriakanku tak terdengar hatinya
Akan tetapi ada yang tak mau
Kaki ini melewati batas lelah
Rasa ini melewati batas dengar
Terkesan melalui batas kemampuan hati
Akan kulakukan terus bukan?
Sampai “dia” (mungkin “kau”) berkenan hadir dalam berandaku
Dan menyajikan secangkir kopi dengan senyum
Menemani menikmati tenggelamnya sang mentari
Berencana tentang bunga apa yang akan kita tanam
Melantunkan cerita tentang masa depan dan masa lalu
Mengkhawatirkan anak-anak yang merantau
Hingga beranda itu penuh dengan si kecil yang berlarian
Saat rambut memutih karena waktu
_cis_
2 komentar:
"bunga cahaya" itu pasti akan datang pada saatnya... ingat, bahwa Tuhan kadang tdk memberikan apa yg kita minta tp memberi apa yg kita harapkan...yakinlah,bahwa "dia" akan datang hanya untukmu....
eh salah tulis (dah ngantuk soalnya)...Tuhan kadang tdk memberikan yg kita minta tp memberikan apa yg kita butuhkan...
maap2....
Posting Komentar